Batuan Purba Kebumen Berusia 125 Juta Tahun, BRIN Ungkap Jejak Pembentukan Pulau Jawa
KANALSUMATERA.com - KEBUMEN – Kawasan Karangsambung, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, menyimpan kekayaan batuan purba yang menjadi petunjuk penting untuk mengungkap sejarah pembentukan Pulau Jawa. Berbagai spesimen geologi di kawasan ini merekam proses pergerakan lempeng bumi hingga perubahan lingkungan yang berlangsung puluhan juta tahun lalu.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memanfaatkan koleksi geodiversitas di Karangsambung sebagai bahan penelitian untuk memahami evolusi bumi, struktur tektonik, serta potensi geologi Indonesia. Sabtu (24/10/2026).
Salah satu temuan penting adalah batuan metamorf dari Kompleks Melange Luk Ulo. Batuan tersebut menyimpan jejak proses subduksi purba, yakni ketika satu lempeng tektonik menunjam ke bawah lempeng lainnya.
Baca: iPhone Lipat Apple Mulai Pre-Order di Indonesia, Harga Tembus Rp75,9 Juta
Penelitian terhadap batuan metamorf di kawasan tersebut mengungkap proses geologi yang terjadi lebih dari 70 juta tahun lalu, tepatnya pada Masa Kapur.
Peneliti BRIN, Isyqi, menjelaskan bahwa karakteristik mineral dalam batuan dapat digunakan untuk memperkirakan kondisi suhu dan tekanan ketika batuan terbentuk. Informasi tersebut membantu ilmuwan merekonstruksi lingkungan geologi masa lampau yang tidak dapat diamati secara langsung.
Baca: Mahasiswa UNAIR Lolos Finalis PIMNAS 39, Usung Inovasi Mikroalga
“Batuan-batuan tersebut adalah arsip sejarah alam yang nyata, yang merekam secara otentik perjalanan lempeng dan dinamika evolusi tektonik Nusantara di masa lampau,” ujar Isyqi, dikutip dari pemberitaan Validnews.
Batuan Metamorf Ungkap Kondisi Ekstrem di Dalam Bumi
Dalam penelitian tersebut, ilmuwan menganalisis sejumlah sampel, termasuk filit grafit dan sekis mika. Pemeriksaan dilakukan menggunakan metode analisis mineral untuk memperkirakan tekanan dan temperatur yang dialami batuan selama proses pembentukannya.
Baca: Bintang Katai Putih Berwarna Hijau Bikin Astronom Ungkap Misteri Kosmik
Hasil analisis menunjukkan filit grafit terbentuk pada tekanan sekitar 4–6 kilobar dengan temperatur 340–380 derajat Celsius.
Sementara itu, sekis mika memperlihatkan kondisi pembentukan pada tekanan lebih tinggi, yakni sekitar 15–16 kilobar, dengan temperatur 350–380 derajat Celsius.
Baca: Ilmuwan Islandia Teliti Ruang Magma Krafla, Buka Peluang Energi Terbarukan
Perbedaan karakteristik tersebut memberikan petunjuk mengenai proses geologi yang dialami masing-masing batuan. Tekanan tinggi pada sekis mika juga menjadi salah satu indikasi keterkaitannya dengan lingkungan subduksi.
Batuan metamorf sendiri terbentuk ketika batuan asal mengalami perubahan mineral, tekstur, dan struktur akibat pengaruh temperatur, tekanan, serta interaksi dengan fluida di dalam bumi.
Proses tersebut dapat berlangsung di berbagai lingkungan geologi, termasuk zona subduksi dan kawasan tumbukan lempeng.
Baca: NASA Uji Teknologi Inspeksi Satelit, Upaya Baru Tekan Sampah Antariksa
Karangsambung Menyimpan Ribuan Koleksi Geologi
Kawasan Karangsambung memiliki peran penting dalam penelitian kebumian karena menyimpan beragam jenis batuan yang membantu ilmuwan memahami perjalanan geologi Indonesia.
Baca: Era AI Ubah Praktik Hukum, In-House Counsel Hadapi Tantangan Baru
BRIN melalui Kawasan Konservasi Ilmiah (KKI) Geodiversitas Karangsambung mengelola koleksi geomaterial yang mencakup batuan beku, batuan sedimen, batuan metamorf, dan mineral.
Dalam laporan penelitian yang dipublikasikan BRIN pada Oktober 2026, kawasan Karangsambung juga disebut memiliki lebih dari 33.000 spesimen geodiversitas untuk mendukung penelitian dan pembelajaran ilmu kebumian.
Koleksi tersebut mencakup berbagai bukti geologi, mulai dari fosil Radiolaria pada batu rijang laut dalam hingga sekis mika yang diperkirakan berumur sekitar 117–125 juta tahun.
Baca: Perkuat Jejaring Puskesmas, Dinkes Kampar Fokus Integrasi Data Pelayanan Kesehatan
Temuan-temuan itu menjadi sumber informasi untuk menelusuri proses pembentukan wilayah Indonesia, termasuk evolusi geologi Pulau Jawa.
Bukan Sekadar Batuan, tetapi Rekaman Sejarah Bumi
Baca: BMKG Peringatkan 9 Wilayah Berpotensi Hujan Lebat, Warga Diminta Waspada
Selain mengungkap sejarah geologi, penelitian batuan juga memiliki manfaat bagi kajian kebencanaan. Struktur batuan yang mengalami patahan atau pergeseran dapat membantu peneliti memahami kondisi geologi suatu wilayah.
Informasi tersebut dapat menjadi salah satu bahan kajian untuk mengenali struktur tektonik dan mendukung pemetaan wilayah yang berpotensi mengalami aktivitas geologi.
Di sisi lain, kandungan mineral dalam batuan juga dapat memberikan informasi mengenai potensi sumber daya geologi yang berguna bagi penelitian dan pengembangan material.
Baca: BMKG Ingatkan Hujan Lebat di Sejumlah Wilayah Indonesia Hari Ini
Kekayaan geologi Karangsambung menjadikan kawasan ini penting bagi pendidikan dan penelitian ilmu kebumian. Kawasan tersebut telah dimanfaatkan sebagai kampus lapangan geologi sejak 1964.
Karangsambung-Karangbolong juga memiliki status sebagai UNESCO Global Geopark, yang memperkuat nilai kawasan tersebut sebagai warisan geologi yang perlu dilindungi dan dimanfaatkan secara berkelanjutan.
Baca: BMKG: 13 Wilayah Indonesia Berpotensi Hujan Hari Ini, Riau Masuk Daftar
Penelitian terhadap batuan purba di Kebumen memperlihatkan bahwa setiap spesimen menyimpan informasi berharga tentang perubahan bumi selama jutaan tahun. Melalui kajian ilmiah, jejak tersebut dapat membantu menjelaskan bagaimana lingkungan geologi Indonesia terbentuk hingga mencapai kondisi saat ini. (SM)
