Mahasiswa UNAIR Lolos Finalis PIMNAS 39, Usung Inovasi Mikroalga
KANALSUMATERA.com - SURABAYA – Inovasi energi ramah lingkungan mengantarkan tiga mahasiswa Universitas Airlangga (UNAIR) menjadi finalis Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) ke-39 tahun 2026. Mereka mengusung gagasan pemanfaatan mikroalga sebagai bahan baku bahan bakar penerbangan berkelanjutan atau Sustainable Aviation Fuel (SAF). Kamis (22/10/2026).
Gagasan tersebut dikembangkan melalui program Algae Archipelago 2045, yang menawarkan konsep pembangunan jaringan industri mikroalga pesisir secara terintegrasi. Inovasi ini diharapkan dapat membuka peluang bagi Indonesia untuk mengembangkan sumber energi hijau sekaligus memperkuat kontribusi di sektor energi berkelanjutan.
Tim Algae Archipelago dinyatakan lolos sebagai finalis pada 14 Oktober 2026 melalui skema Program Kreativitas Mahasiswa Gagasan Futuristik Tertulis (PKM-GFT).
Baca: Bintang Katai Putih Berwarna Hijau Bikin Astronom Ungkap Misteri Kosmik
Tim tersebut terdiri atas Iqlima Abdul Rokhim dan Shofarul Khoiriyah dari Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK), serta Jamie Fransisco Purba dari Fakultas Teknologi Maju dan Multidisiplin (FTMM). Mereka mengembangkan gagasan tersebut dengan bimbingan dosen pendamping Annur Ahadi Abdillah, S.Pi., M.Si., Ph.D.
Mikroalga Berpotensi Jadi Bahan Baku Bahan Bakar Pesawat
Baca: Ilmuwan Islandia Teliti Ruang Magma Krafla, Buka Peluang Energi Terbarukan
Fokus utama inovasi ini adalah mengembangkan mikroalga sebagai salah satu alternatif bahan baku SAF. Pengembangan bahan bakar penerbangan berkelanjutan menjadi perhatian karena sektor penerbangan masih menghadapi tantangan dalam mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar konvensional.
Iqlima menjelaskan bahwa mikroalga memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai sumber biomassa yang dapat diolah menjadi bahan baku energi alternatif.
“SAF bisa menjadi salah satu alternatif bahan bakar yang lebih berkelanjutan. Kami melihat mikroalga berpotensi menjadi bahan baku yang dapat dikembangkan untuk mendukung kebutuhan tersebut,” ujarnya.
Baca: NASA Uji Teknologi Inspeksi Satelit, Upaya Baru Tekan Sampah Antariksa
Melalui konsep Algae Archipelago 2045, tim mahasiswa UNAIR merancang sistem industri yang menghubungkan potensi sumber daya pesisir, pemanfaatan limbah, pengolahan biomassa, hingga distribusi bioenergi.
Dalam rancangan tersebut, limbah agroindustri yang kaya nutrien dan karbon dioksida (CO?) dari kegiatan industri diusulkan sebagai bahan pendukung pertumbuhan mikroalga.
Baca: Era AI Ubah Praktik Hukum, In-House Counsel Hadapi Tantangan Baru
Meski demikian, penggunaan limbah tidak dapat dilakukan secara sembarangan. Pengujian diperlukan untuk mengetahui kandungan nutrien sekaligus memastikan tidak terdapat kontaminan atau zat beracun yang berpotensi menghambat pertumbuhan mikroalga.
“Limbah nutrien perlu diuji terlebih dahulu untuk mengetahui kandungannya. Termasuk kemungkinan kontaminan atau zat toksik yang dapat menghambat pertumbuhan mikroalga,” kata Iqlima.
Usulkan Industri Terintegrasi dari Pesisir hingga Bioenergi
Baca: Perkuat Jejaring Puskesmas, Dinkes Kampar Fokus Integrasi Data Pelayanan Kesehatan
Setelah melewati tahap budidaya atau kultivasi dan pemanenan, biomassa mikroalga dalam konsep tersebut direncanakan untuk diproses di fasilitas biorefinery guna menghasilkan bioenergi.
Agar sistem tersebut dapat dikembangkan, tim mengusulkan kolaborasi berbagai pihak, mulai dari pemerintah, perguruan tinggi, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), pelaku agroindustri, industri penghasil CO?, badan usaha milik negara (BUMN), hingga lembaga pembiayaan.
Baca: BMKG Peringatkan 9 Wilayah Berpotensi Hujan Lebat, Warga Diminta Waspada
Kolaborasi lintas sektor dinilai penting untuk membangun rantai industri yang saling terhubung, mulai dari penyediaan bahan baku hingga pengolahan dan distribusi energi.
Namun, konsep tersebut masih membutuhkan penelitian dan kajian lanjutan sebelum dapat diterapkan secara luas. Salah satu tantangan yang harus dijawab adalah menentukan spesies mikroalga yang paling sesuai untuk pengembangan bahan bakar penerbangan.
Tim juga perlu menguji kelayakan penggunaan limbah sebagai sumber nutrien serta menilai efektivitas proses pengolahan biomassa.
Baca: BMKG Ingatkan Hujan Lebat di Sejumlah Wilayah Indonesia Hari Ini
Iqlima menyebut timnya belum menetapkan spesies mikroalga tertentu karena pemilihan jenis yang tepat masih memerlukan penelitian lebih lanjut.
Targetkan Kontribusi untuk Pengembangan Energi Hijau
Baca: BMKG: 13 Wilayah Indonesia Berpotensi Hujan Hari Ini, Riau Masuk Daftar
Tim Algae Archipelago berharap gagasan yang mereka kembangkan tidak berhenti pada kompetisi ilmiah, tetapi dapat menjadi dasar penelitian dan pengembangan teknologi energi berkelanjutan pada masa mendatang.
“Harapannya, Algae Archipelago bisa terealisasi dan mendukung energi hijau dunia. Jargon kami, From Microalgae to Global Energy, From Indonesia to the World,” tuturnya.
Selain mengembangkan inovasi, Iqlima juga mengajak mahasiswa untuk berani mengikuti kompetisi ilmiah dan menyusun gagasan berdasarkan persoalan yang ditemukan di lingkungan sekitar.
Baca: Jejak Kaki T-Rex Ditemukan, Fosil Kuno Ini Segera Dipindahkan ke Museum AS
Menurutnya, inovasi tidak harus dimulai dari ide yang sempurna. Keberanian untuk memulai dan kemauan untuk terus belajar menjadi bagian penting dalam proses pengembangan gagasan.
“Kita tidak harus punya ide sempurna terlebih dahulu. Yang penting berani memulai dan mau terus belajar,” katanya.
Baca: Syahrul Aidi Bicara Masa Depan Jurnalisme dan Regulasi AI
Keberhasilan mahasiswa UNAIR melaju ke final PIMNAS ke-39 menjadi salah satu contoh upaya mahasiswa mengembangkan gagasan berbasis ilmu pengetahuan untuk menjawab tantangan masa depan.
Meski pemanfaatan mikroalga sebagai bahan baku bahan bakar pesawat masih memerlukan pembuktian melalui penelitian lanjutan, konsep Algae Archipelago 2045 menawarkan arah pengembangan yang menghubungkan potensi sumber daya pesisir dengan inovasi energi hijau. (SM)
