NASA Uji Teknologi Inspeksi Satelit, Upaya Baru Tekan Sampah Antariksa
KANALSUMATERA.com - JAKARTA – Badan Antariksa Amerika Serikat atau NASA mengembangkan teknologi inspeksi satelit untuk menghadapi persoalan sampah antariksa yang semakin mengancam keselamatan berbagai misi luar angkasa. Sabtu (10/10/2026).
Teknologi ini menjadi bagian dari misi Small Spacecraft Propulsion and Inspection Capability (SSPICY), yang dirancang untuk menguji kemampuan wahana antariksa dalam mendekati dan memeriksa satelit yang sudah tidak beroperasi di orbit Bumi.
Program tersebut diharapkan membuka peluang pengembangan layanan inspeksi dan perawatan satelit di luar angkasa. Dengan kemampuan tersebut, kondisi satelit dapat diperiksa tanpa harus selalu mengandalkan pengamatan dari Bumi.
Baca: Era AI Ubah Praktik Hukum, In-House Counsel Hadapi Tantangan Baru
Berdasarkan informasi yang dipublikasikan Radio Republik Indonesia (RRI), misi SSPICY menggunakan wahana Otter 24C milik perusahaan Starfish Space. Wahana ini dirancang mendekati hingga empat satelit Amerika Serikat yang telah berhenti beroperasi di orbit rendah Bumi.
Otter 24C dilengkapi sistem propulsi, navigasi, dan kendali otonom untuk mendukung pergerakan di orbit. Wahana tersebut juga memanfaatkan perangkat lunak berbasis visi komputer agar dapat mendekati objek antariksa dengan lebih terarah.
Baca: Perkuat Jejaring Puskesmas, Dinkes Kampar Fokus Integrasi Data Pelayanan Kesehatan
Pengujian ini menjadi langkah penting untuk memahami kemampuan teknologi inspeksi satelit dalam menghadapi tantangan operasional di lingkungan antariksa.
Mengapa Inspeksi Satelit Penting?
Sampah antariksa merupakan berbagai benda buatan manusia yang tertinggal di luar angkasa, mulai dari satelit yang tidak lagi berfungsi, bagian roket, hingga pecahan benda antariksa.
Baca: BMKG Peringatkan 9 Wilayah Berpotensi Hujan Lebat, Warga Diminta Waspada
Keberadaan benda-benda tersebut berpotensi menimbulkan tabrakan dengan satelit aktif maupun wahana antariksa lainnya. Karena bergerak dengan kecepatan tinggi, benturan dengan puing berukuran relatif kecil sekalipun dapat menyebabkan kerusakan serius.
Tabrakan juga dapat menghasilkan serpihan baru yang menambah kepadatan sampah di orbit. Jika kondisi ini terus berlangsung, risiko benturan berantai dapat meningkat dan mengganggu pemanfaatan orbit Bumi.
Baca: BMKG Ingatkan Hujan Lebat di Sejumlah Wilayah Indonesia Hari Ini
Teknologi inspeksi satelit berpotensi membantu operator memperoleh informasi lebih baik mengenai kondisi objek di orbit. Informasi tersebut dapat menjadi dasar untuk mengembangkan sistem perawatan satelit dan strategi pengelolaan wahana yang sudah tidak beroperasi.
Meski demikian, inspeksi satelit tidak secara langsung menghilangkan sampah antariksa. Pengurangan puing tetap membutuhkan langkah tambahan, termasuk pengelolaan akhir masa operasional satelit dan pengembangan teknologi penanganan sampah antariksa.
NASA Kembangkan Teknologi Antariksa Generasi Berikutnya
Baca: BMKG: 13 Wilayah Indonesia Berpotensi Hujan Hari Ini, Riau Masuk Daftar
Misi SSPICY merupakan salah satu dari tiga wahana antariksa kecil yang diluncurkan menggunakan roket SpaceX Falcon 9 dalam misi Transporter-18 pada 1 Oktober 2026 waktu setempat.
Selain SSPICY, peluncuran tersebut membawa wahana ASCENT Propulsion Dual Mode CubeSat untuk menguji sistem propulsi serta SPRITE CubeSat untuk penelitian astrofisika.
Baca: Jejak Kaki T-Rex Ditemukan, Fosil Kuno Ini Segera Dipindahkan ke Museum AS
Khusus SSPICY, pengujian teknologi inspeksi diperkirakan berlangsung sekitar dua tahun. Kegiatan inspeksi terhadap satelit ditargetkan mulai dilakukan pada 2027.
Melalui pengujian tersebut, teknologi navigasi otonom dan pendekatan terhadap objek antariksa diharapkan semakin matang untuk mendukung pengembangan misi berikutnya.
Upaya ini juga memperlihatkan pentingnya inovasi teknologi dalam menjaga keberlanjutan aktivitas manusia di luar angkasa, terutama ketika jumlah satelit yang mengorbit Bumi terus bertambah.
Baca: Syahrul Aidi Bicara Masa Depan Jurnalisme dan Regulasi AI
Pengembangan teknologi inspeksi dan perawatan satelit menjadi salah satu pendekatan yang dapat mendukung pengelolaan orbit secara lebih aman. Namun, efektivitasnya dalam mengurangi sampah antariksa masih bergantung pada hasil pengujian serta penerapan teknologi tersebut pada misi berikutnya. (SM)
